Lompat ke konten
Beranda » NEWS » Dua Mahasiswa STID Al-Biruni Cirebon Jadi Relawan FK-KBPA-BR di Lokasi Longsor Tapanuli Tengah

Dua Mahasiswa STID Al-Biruni Cirebon Jadi Relawan FK-KBPA-BR di Lokasi Longsor Tapanuli Tengah

Cirebon — Dua mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Al-Biruni Babakan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, terjun langsung dalam misi kemanusiaan sebagai relawan Forum Koordinasi Komunikasi Bela Negara dan Perlindungan Anak Bangsa Relawan (FK-KBPA-BR) di wilayah terdampak bencana longsor di Desa Sait Kalangan 2, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara. Kegiatan relawan ini dilaksanakan sejak 20 Desember 2025.

Kedua mahasiswa tersebut adalah Salman Al-Farisi (mahasiswa semester 5) dan Mudaris Ghozali (mahasiswa semester akhir). Mereka diterjunkan untuk membantu masyarakat yang terdampak longsor hebat yang mengakibatkan Dusun 2, Dusun 3, dan Dusun 4 nyaris lenyap, tertimbun material tanah dan bebatuan dari perbukitan di sekitarnya.

Kondisi di lokasi bencana terpantau memprihatinkan. Bekas rumah warga, jalan lingkungan, serta fasilitas umum tidak lagi terlihat dengan jelas akibat tertutup longsoran tanah. Sejumlah warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman, sementara sebagian lainnya kehilangan tempat tinggal dan harta benda. Aktivitas masyarakat berlangsung dalam keterbatasan, dengan kebutuhan mendesak berupa logistik, pendampingan psikososial, serta dukungan moral.

Sejak hari pertama penugasan, Salman Al-Farisi dan Mudaris Ghozali terlibat aktif dalam berbagai kegiatan kemanusiaan dimasa pemulihan ini, mulai dari pendataan warga terdampak, pendampingan anak-anak di lokasi pengungsian, hingga membantu distribusi bantuan dan koordinasi dengan relawan lintas daerah.

Salman Al-Farisi mengungkapkan suasana haru saat pertama kali tiba di lokasi longsor :
“Ketika kami melihat langsung kondisi Dusun 2, 3, dan 4 yang sudah tidak terlihat lagi, rasanya sangat memilukan. Banyak warga kehilangan rumah dan kenangan hidupnya. Kehadiran kami di sini setidaknya untuk menguatkan mereka agar tidak merasa sendiri,” ujarnya.

Sementara itu, Mudaris Ghozali menuturkan bahwa dampak bencana ini tidak hanya segi material tapi juga dampak pada sikologi masyarakat :
“Bencana alam tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik dan kerugian materi, tetapi juga berdampak serius terhadap kondisi psikologis masyarakat. Banyak warga terdampak mengalami trauma, stres, dan rasa cemas berkepanjangan akibat kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian, maupun anggota keluarga. Kondisi ini sering kali memicu gangguan emosi, seperti mudah marah, sulit tidur, hingga menurunnya semangat hidup. Oleh karena itu, upaya pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada bantuan logistik dan infrastruktur, tetapi juga pendampingan psikososial guna membantu masyarakat bangkit secara mental dan sosial.” kata Mudaris.

Meski dihadapkan pada medan yang cukup berat dan cuaca yang tidak menentu, para relawan tetap menjalankan tugas dengan penuh dedikasi. Akses menuju beberapa titik pengungsian harus ditempuh melalui jalan berlumpur dan jalur darurat, sementara potensi longsor susulan masih menjadi kekhawatiran warga dan relawan.

Pihak STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin menyampaikan apresiasi atas keberanian dan kepedulian mahasiswanya yang terjun langsung ke lokasi bencana sejak 20 Desember 2025. Menurut pihak kampus, keterlibatan mahasiswa dalam penanganan bencana merupakan wujud nyata pengamalan nilai dakwah, kemanusiaan, dan pengabdian kepada masyarakat

Potret Suasana Lokasi Bencana

Sharing is Caring

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *